“Elogio de la lectura y la ficción,” Mario Vargas Llosa. Disampaikan sebagai pidato penerimaan Hadiah
Nobel Sastra 2010 di hadapan Akademi Swedia, Stockholm, 7 Desember 2010.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus.
Bila dalam ceramah ini saya harus
memanggil semua penulis tempat saya berutang sedikit atau banyak, bayang-bayang
mereka akan menenggelamkan kita dalam kegelapan. Jumlahnya tak terbilang. Selain
mengungkap rahasia-rahasia keterampilan berkisah, mereka mewajibkan saya
menggali kedalaman kemanusiaan yang tak berdasar, mengagumi laku-laku
heroiknya, dan merasa ngeri pada kebuasannya. Merekalah kawan-kawan yang paling
berbakti, yang menggairahkan panggilan hidup saya, dan yang dalam buku-buku
mereka saya dapati bahwa bahkan dalam situasi paling celaka, harapan itu ada
dan hidup ini layak diupayakan sekalipun hanya karena tanpa hidup kita tidak
bisa membaca atau mengkhayalkan cerita-cerita.
Proses yang tak pernah terputus
ini diperkaya saat tulisan lahir dan cerita-cerita, selain didengar, juga bisa
dibaca, mencapai keabadian yang diberikan oleh kesusastraan. Karena itulah ini
harus terus diulang-ulang tanpa henti untuk meyakinkan generasi-generasi baru:
bahwa fiksi lebih dari sekadar hiburan, lebih dari olah intelektual yang
mempertajam kepekaan seseorang dan membangkitkan semangat kritis. Ini
keniscayaan mutlak agar peradaban terus ada, memperbarui dan melestarikan dalam
diri kita yang terbaik dari arti menjadi manusia. Agar kita tidak kembali pada
kebiadaban hidup terisolir dan agar hidup tidak tereduksi menuju pragmatisme
kaum spesialis yang melihat hal ihwal secara mendalam namun mengabaikan apa
yang melingkupi, mendahului, dan melanjutkan hal-hal tersebut. Agar kita tidak
bergeser dari dilayani mesin-mesin yang kita ciptakan menjadi pelayan dan budak
mereka. Dan karena sebuah dunia tanpa sastra akan menjadi dunia tanpa hasrat,
cita-cita dan pembangkangan, dunia robot yang tak memiliki apa yang membuat
manusia benar-benar menjadi manusia: kapasitas untuk bergerak keluar dari diri
sendiri dan menjadi yang lain, menjadi lain-lainnya, yang dibentuk seturut
adonan tanah liat mimpi-mimpi kita.
Saya belajar membaca pada umur
lima tahun, di kelas Bruder Justiniano di Colegio de la Salle, Cochabamba
(Bolivia). Ini hal terpenting yang pernah berlangsung dalam hidup saya. Hampir
tujuh puluh tahun sesudahnya saya masih ingat jelas kegaibannya, menerjemahkan
kata-kata dalam buku menjadi imaji-imaji, memperkaya hidup saya, mendobrak
sekat-sekat ruang dan waktu dan memungkinkan saya berkelana bersama Kapten Nemo
dua puluh ribu mil ke dasar laut, bertarung bersama d’Artagnan, Athos, Portos,
dan Aramis melawan intrik-intrik yang mengancam Ratu pada zaman Richelieu yang
culas, atau berjalan terseret-seret di bawah tanah Paris, berubah menjadi Jean
Valjean, membopong badan lembam Marius di punggung.
Membaca mengubah mimpi menjadi
hidup dan hidup menjad mimpi dan menempatkan semesta sastra dalam jangkauan
anak kecil seperti saya dulu. Ibu saya bercerita bahwa hal pertama yang saya
tulis adalah kelanjutan cerita-cerita yang saya baca karena saya sedih mereka
selesai atau karena saya ingin mengganti akhir ceritanya. Dan barangkali inilah
yang saya perbuat sepanjang hidup tanpa menyadarinya: mengulur-ulur dalam waktu
–seraya saya besar, dewasa, dan menua—kisah-kisah yang mengisi masa kanak-kanak
saya dengan keriangan dan petualangan.
Saya harap ibu saya bisa berada di
sini, perempuan yang menitikkan air mata membaca puisi-puisi Amado Nervo dan
Pablo Neruda, dan juga kakek Pedro, dengan hidung besarnya dan kepala botaknya
yang berkilap, yang menyanjung syair-syair saya, serta paman Lucho yang
mendorong saya dengan begitu bersemangat agar mencurahkan segenap jiwa raga
untuk menulis, sekalipun sastra, di tempat dan zaman itu, begitu minim
menafkahi para pelakunya. Sepanjang hidup saya memiliki orang-orang seperti itu
di samping saya, orang-orang yang mencintai dan menyemangati saya dan
menularkan keyakinan mereka saat saya ragu. Berkat mereka, dan jelas karena
kedegilan saya dan nasib mujur, saya mampu membaktikan sebagian besar waktu
saya untuk gelora tersebut, keranjingan dan keajaiban menulis, menciptakan
sebuah kehidupan paralel di mana kita bisa berlindungan dari kesusahan, yang
membuat yang luar biasa jadi biasa dan yang biasa-biasa saja jadi luar biasa,
melesapkan kekacauan, memperelok kejelekan, mengabadikan kesekejapan, dan
mengubah maut menjadi tontonan sambil lalu.
Tidaklah mudah mengarang cerita.
Ketika berubah menjadi kata-kata, proyek-proyek lumer di atas kertas dan
ide-ide serta gambaran-gambaran berguguran. Bagaimana menghidupkan mereka lagi?
Untungnya, ada para maestro untuk dipelajari dan teladan-teladan untuk diikuti.
Flaubert mengajari saya bahwa bakat adalah disiplin yang ulet dan kesabaran
panjang. Faulkner, bahwa bentuk –penulisan dan struktur—mengangkat atau
memiskinkan tema. Martorell, Cervantes, Dickens, Balzac, Tolstoy, Conrad,
Thomas Mann, bahwa besaran dan ambisi sama pentingnya dalam sebuah novel
sebagaimana ketangkasan stilistik dan strategi narasi. Sartre, bahwa kata-kata
adalah aksi, bahwa novel, drama, atau esai, yang bergulat dengan aktualitas dan
pilihan-pilihan yang lebih baik, bisa mengubah jalan sejarah. Camus dan Orwell,
bahwa sastra yang dilucuti dari moralitas itu tidak manusiawi, dan Malraux
bahwa heroisme dan tindakan epik masih mungkin pada zaman ini sebagaimana pada
zaman para argonaut, Odisea (Odyssey), dan Ilíada (Iliad).
Kadang saya bertanya-tanya di
negara-negara seperti negara saya, dengan pembaca yang jarang dan begitu banyak
kemiskinan, buta huruf, dan ketidakadilan, di mana budaya adalah privilese bagi
yang segelintir, tidakkah menulis merupakan kemewahan solipsis. Namun demikian
keraguan ini tak pernah mematahkan panggilan saya dan saya pun terus menulis,
bahkan pada masa-masa ketika mencari nafkah menyita sebagian besar waktu saya.
Saya yakin apa yang saya lakukan ini benar, karena bila agar sastra bisa
berkembang sebuah masyarakat pertama-tama perlu untuk mencapai kebudayaan
tinggi, kebebasan, kemakmuran, dan keadilan terlebih dulu, sastra tak bakal
pernah ada. Sebaliknya, berkat sastra, kesadaran yang dibentuknya,
hasrat-hasrat dan kerinduan yang disulutnya, dan kekecewaan kita pada realitas
manakala kita kembali dari perjalanan melanglang khayalan indah, peradaban kini
tidak seberapa buas dibanding saat para pendongeng mulai memanusiakan hidup
dengan fabel-fabel mereka. Kita akan jadi lebih buruk dibanding sekarang tanpa
buku-buku bagus yang kita baca, lebih konformis, tak seresah ini, lebih tunduk,
dan semangat kritis –mesin penggerak kemajuan—bahkan takkan ada. Ibarat
menulis, membaca adalah protes terhadap tidakmemadainya hidup. Saat kita
mencari dalam karya fiksi apa yang kurang dalam hidup, kita sedang mengatakan
–tanpa perlu mengucapkannya atau bahkan mengetahuinya—bahwa hidup sebagaimana
adanya ini tidak memuaskan dahaga kita akan yang-absolut –dasar kedirian
manusia—dan semestinya jadi lebih baik. Kita mengarang fiksi agar bisa
menjalani banyak hidup yang ingin kita lakoni padahal kita sendiri cuma punya
satu kehidupan yang tersedia buat kita.
Tanpa fiksi kita akan jadi kurang
awas mengenai pentingnya kebebasan bagi hidup agar bisa dihidupi, dan neraka
yang ditimbulkannya ketika kebebasan diinjak-injak oleh seorang tiran, sebuah
ideologi, atau agama. Biarkan orang-orang yang menyangsikan bahwa sastra bukan
hanya menenggelamkan kita dalam mimpi akan keindahan dan kebahagiaan namun
membuat kita waspada akan segala jenis penindasan, bertanya pada diri mereka
sendiri mengapa semua rezim yang bertekad mengontrol perilaku warganya dari
lahir sampai mati begitu takut akan sastra sampai-sampai mereka membangun
sistem sensor untuk menindasnya dan berjaga dengan penuh curiga pada
penulis-penulis independen. Mereka berbuat demikian karena tahu risikonya
membiarkan imajinasi bebas berkelana dalam buku-buku, pemberontakan yang bisa
disulut karya-karya fiksi ketika pembaca membandingkan kebebasan yang
memungkinkannya dengan yang dipraktikkan, dengan kemuraman dan rasa takut
menanti dalam dunia nyata. Entah menghendakinya atau tidak, menyadarinya atau
tidak, para pengarang –saat mengarang kisah-kisahnya—tengah menyebarkan
ketidakpuasan, menunjukkan bahwa dunia ini buruk adanya dan kehidupan fantasi
lebih kaya ketimbang kehidupan rutin kita sehari-hari. Pemahaman ini, apabila
berakar dalam kepekaan dan kesadaran, akan membuat warga makin sulit
dimanipulasi, tak sudi menerima kebohongan para inkuisitor dan sipir yang ingin
mereka percaya bahwa di balik jeruji, hidup akan lebih aman dan lebih baik.
Sastra yang baik membangun
jembatan antara orang yang berbeda-beda, dan dengan membuat kita menikmati,
menderita, atau terkejut, mempersatukan kita melampaui bahasa, kepercayaan,
kebiasaan, adat istiadat, dan prasangka-prasangka yang memisahkan kita. Ketika
paus putih besar mengubur Kapten Ahab di lautan, ciutlah hati para pembaca
dengan cara yang sama di Tokyo, Lima, atau Timbuktu. Saat Emma Bovary menenggak
arsenik, Anna Karenina membuang diri ke depan kereta, dan Julián Sorel pergi ke
tiang gantungan, dan ketika dalam El sur, si dokter kota Juan Dahlmann keluar
dari kedai di pampa untuk menghadapi pisau si pembunuh, atau saat kita sadari
bahwa semua penghuni Comala, desa Pedro Páramo, mati, rasa merinding sama-sama
dialami pembaca yang menyembah Buddha, Konghucu, Kristus, Allah, atau seorang
agnostik, atau pembaca yang mengenakan jas dan dasi, jubah chilaba, kimono,
atau bombacha. Sastra menciptakan persaudaraan antara keanekaragaman manusia
dan memudarkan batas-batas yang didirikan antar lelaki dan perempuan oleh
kepicikan, ideologi, agama, bahasa, dan kebodohan.
Karena setiap zaman punya
kengeriannya sendiri-sendiri, zaman kita adalah zaman kaum fanatik, teroris
bunuh diri, spesies purba yang yakin bahwa dengan membunuh mereka akan masuk
surga, bahwa darah orang-orang tak berdosa membasuh kenistaan kolektif,
meluruskan ketimpangan, dan menerapkan kebenaran pada keyakinan-keyakinan
palsu. Tiap hari, di seluruh dunia, korban-korban tak terhitung banyaknya
ditumbalkan oleh pihak-pihak yang merasa memegang kebenaran mutlak itu. Kita
percaya, seiring dengan robohnya imperium-imperium totalitarian, bahwa hidup
bersama, perdamaian, pluralisme, dan hak azasi manusia akan merebak dan dunia
akan menanggalkan holocaust, genosida, invasi, dan perang-perang pemusnahan.
Tak satu pun hal itu terjadi. Bentuk-bentuk baru barbarisme meruyak, dipicu
oleh fanatisisme, dan dengan menjamurnya senjata-senjata pemusnah massal, kita
tidak bisa abaikan bahwa sekelompok kecil penebus membabi buta itu suatu hari
bisa menyulut bencana nuklir. Kita harus menghalangi jalan mereka, menantang
dan mengalahkan mereka. Jumlahnya tak banyak, sekalipun gemuruh kejahatan
mereka bergaung ke sekujur planet dan melanda kita dengan ngerinya mimpi buruk
yang mereka sulut. Jangan biarkan diri kita terintimidasi oleh orang-orang yang
ingin merampas kebebasan yang telah kita raih sepanjang jalan panjang
peradaban. Mari kita pertahankan demokrasi liberal yang dengan segala
kekurangannya masih tetap memberi makna penting pada pluralisme politik,
koeksistensi, toleransi, hak azasi manusia, penghargaan bagi kritik, legalitas,
pemilihan umum yang bebas, silih ganti kekuasaan, segala yang mengeluarkan kita
dari kehidupan liar dan membawa kita makin dekat –sekalipun takkan pernah
mencapainya—pada kehidupan yang indah nan sempurna bikinan kesusastraan, yang
hanya layak kita dapatkan dengan mengarang, menulis, dan membacanya. Dengan
melawan pembunuh-pembunuh fanatik itu kita pertahankan hak kita untuk bermimpi
dan membuat impian kita menjadi kenyataan.
Semasa muda saya, seperti banyak
penulis seangkatan saya, saya seorang Marxis dan yakin bahwa sosialisme akan
jadi penangkal bagi eksploitasi dan ketimpangan sosial yang makin buas di
negeri saya, Amerika Latin, dan Dunia Ketiga selebihnya. Kekecewaan saya
terhadap statisme dan kolektivisme serta peralihan saya menjadi demokrat dan liberal
seperti sekarang –yang terus saya upayakan—berlangsung lama, sulit, dan
pelan-pelan sebagai dampak episode-episode seperti berubahnya Revolusi Kuba
–yang membuat saya bersemangat pada awalnya—menjadi model vertikal otoritarian
Uni Soviet; pengakuan para pembangkang yang berhasil lolos melewati pagar kawat
duri Gulag; penyebuan Cekoslowakia oleh negara-negara Pakta Warsawa; dan karena
para pemikir seperti Raymond Aron, Jean Francois Rével, Isaiah Berlin, dan Karl
Popper, kepada siapa saya berutang pemahaman tentang kultur demokratis dan
masyarakat terbuka. Para empu itu adalah teladan kejernihan dan keberanian
ketika kaum intelligentsia Barat, karena sembrono atau aji mumpung, sepertinya
takluk pada mantra sosialisme Soviet, atau lebih parah lagi, pada para penyihir
berdarah Revolusi Kebudayaan Cina.
Sebagai anak-anak saya bermimpi
untuk suatu hari bisa ke Paris karena –silau oleh sastra Perancis—saya yakin
bahwa tinggal di sana dan menghirup udara yang dihirup oleh Balzac, Stendhal,
Baudelaire, dan Proust akan turut mengubah saya menjadi penulis sungguhan, dan
bila saya tidak meninggalkan Peru saya hanya akan jadi penulis gadungan pada
hari Minggu dan hari libur. Dan sebenarnya saya berutang pada Perancis dan
budaya Perancis pelajaran-pelajaran tak terlupakan, misalnya bahwa sastra
selain panggilan hidup juga adalah disiplin, kerja keras dan kengototan. Saya
tinggal di sana saat Sartre dan Camus masih hidup dan menulis, pada masa-masa
Ionesco, Beckett, Bataille, dan Cioran, penemuan akan teater Brecht dan
film-film Ingmar Bergman, TNP-nya Jean Vilar dan Teater Odéon-nya Jean-Louis
Barrault, Nouvelle Vague dan Nouveau Roman serta pidato-pidato André Malraux
–gubahan sastra yang indah—serta apa yang waktu itu merupakan tontonan paling
teatrikal se-Eropa, konferensi pers dan pidato-pidato mengguntur Jenderal de
Gaulle. Namun barangkali saya paling bersyukur pada Perancis karena menemukan
Amerika Latin. Di sana saya belajar bahwa Peru adalah bagian dari komunitas
luas yang dipersatukan oleh sejarah, geografi, masalah-masalah sosial politik,
modus kedirian tertentu, dan bahasa indah yang didituturkan dan dituliskannya.
Dan pada tahun-tahun itu pula, Amerika Latin tengah menghasilkan sastra yang
baru dan bertenaga. Di sana saya membaca Borges, Octavio Paz, Cortázar, García
Márquez, Fuentes, Cabrera Infante, Rulfo, Onetti, Carpentier, Edwards, Donoso,
dan banyak lain yang tulisan-tulisannya merevolusi narasi berbahasa Spanyol,
dan yang berkat mereka Eropa serta belahan dunia lainnya menemukan bahwa
Amerika Latin bukan hanya benua penuh kudeta, tuan-tuan besar di operet,
gerilyawan-gerilyawan berewokan, dan marakas musik mambo dan chachachá, namun
juga gagasan, bentuk-bentuk artistik, dan fantasi-fantasi literer yang
melampaui keindahan belaka dan mengucapkan bahasa yang universal.
Dari waktu itu hingga kini,
bukannya tanpa rintangan dan kekhilafan, Amerika Latin telah mengalami
kemajuan, sekalipun seperti kata sebuah puisi César Vallejo, Hay, hermanos,
muchísimo que hacer (Hai, bung, masih banyak yang harus dilakukan).
Kediktatoran lebih sedikit dari sebelumnya, hanya Kuba dan calon penerusnya,
Venezuela, serta beberapa pseudodemokrasi populis lawakan macam Bolivia dan
Nikaragua. Namun di bagian benua selebihnya, lebih kurangnya, demokrasi
berjalan, disokong oleh konsensus umum yang meluas, dan untuk pertama kalinya
dalam sejarah kami, sebagaimana di Brasil, Cile, Uruguay, Peru, Kolombia,
Republik Dominika, Meksiko, dan hampir sekujur Amerika Tengah, kami punya kubu
kiri dan kanan yang menjunjung legalitas, kebebasan mengkritik, pemilu, dan
suksesi kekuasaan. Itu jalan yang benar, dan bila terus begini, dengan tetap
memerangi korupsi yang licik dan berintegrasi dengan dunia, Amerika Latin pada
akhirnya akan berhenti menjadi benua masa depan dan menjadi benua masa kini.
Saya tak pernah merasa sebagai
orang asing di Eropa atau, sejujurnya, di mana pun. Di semua tempat yang pernah
saya tinggali, Paris, London, Barcelona, Madrid, Berlin, Washington, New York,
Brasil, atau Republik Dominika, saya merasa betah. Saya selalu menemukan sarang
untuk bisa hidup tenang dan bekerja, belajar macam-macam, memupuk khayalan, dan
menemukan teman, buku-buku bagus, dan tema-tema untuk ditulis. Saya tidak
merasa bahwa dengan tanpa sengaja menjadi warga dunia telah memperlemah apa
yang disebut “akar saya,” hubungan saya dengan negeri saya sendiri –bukannya
tidak teramat penting—sebab bila demikian, pengalaman saya sebagai orang Peru
tidak akan terus memupuk saya sebagai penulis dan tidak akan selalu muncul
dalam cerita-cerita saya, sekalipun kelihatannya terjadi sangat jauh dari Peru.
Saya malah meyakini bahwa tinggal begitu lama di luar negara tempat saya
dilahirkan justru memperkuat ikatan itu, memberi perspektif yang lebih jernih
terhadapnya, dan nostalgia yang bisa membedakan yang-ajektif dengan
yang-substantif dan membuat ingatan berdebar-debar. Mencintai negara tempat
seseorang dilahirkan tidak bisa menjadi suatu kewajiban, namun seperti cinta
lainnya, haruslah sebuah laku spontan yang keluar dari hati, seperti cinta yang
mempersatukan kekasih, orang tua dan anak, serta teman-teman.
Peru saya bawa-bawa jauh di dalam
diri saya karena di sanalah saya lahir, tumbuh besar, terbentuk, dan melakoni
pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dan remaja yang menyusun kepribadian
saya dan menempa panggilan hidup saya, dan di sana saya bercinta, membenci,
mencecap kenikmatan, menderita, dan bermimpi. Apa yang terjadi di sana lebih
mempengaruhi saya, lebih mengharukan dan menyesakkan saya ketimbang yang
terjadi di tempat lain manapun. Saya tidak mengharapkannya atau memaksakannya
pada diri saya; begitu saja terjadi. Beberapa sanak sebangsa saya menuding saya
sebagai pengkhianat, dan saya nyaris kehilangan kewarganegaraan manakala selama
masa kediktatoran terakhir, saya meminta pemerintahan negara-negara demokratis
sedunia untuk menghukum rezim tersebut dengan sanksi-sanksi diplomatik dan
ekonomi, sebagaimana yang selalu saya perbuat dengan segala jenis kediktatoran,
entah itu Pinochet, Fidel Castro, Taliban di Afghanistan, Imam di Iran,
apartheid di Afrika Selatan, penguasa-penguasa berseragam di Burma (kini
Myanmar). Dan saya akan melakukannya lagi esok bila –semoga nasib tidak
menakdirkan demikian dan rakyat Peru takkan mengizinkan—Peru sekali lagi
menjadi korban kudeta yang menghabisi demokrasi kami yang masih rapuh. Ini
bukan tindakan emosional yang gegabah dari seseorang yang sakit hati, seperti
ditulis beberapa pengulas, yang terbiasa menilai orang lain dari sudut pandang
mereka sendiri yang kerdil. Ini tindakan yang segaris dengan keyakinan saya
bahwa kediktatoran menghadirkan kedurjanaan absolut untuk sebuah negeri, sumber
brutalitas dan korupsi serta luka-luka mendalam yang butuh waktu lama untuk
menutup, meracuni masa depan bangsa, dan membentuk kebiasaan dan
praktik-praktik mudarat yang bertahan selama sekian keturunan dan menghalangi
rekonstruksi demokratis. Itu sebabnya kediktatoran harus diperangi tanpa ragu,
dengan segala cara yang bisa kita pakai, termasuk sanksi ekonomi. Sungguh
sayang pemerintahan negara-negara demokratis, alih-alih menjadi teladan
solidaritas bersama orang-orang seperti Damas de Blanco di Kuba, kubu oposisi
Venezuela, atau Aung San Suu Kyi dan Liu Xiaobo, yang dengan gagah berani
menantang kediktatoran yang mereka tanggung, kerap justru tak memihak mereka
melainkan algojo mereka. Para pemberani itu, yang sedang memperjuangkan
kebebasan mereka, juga tengah memperjuangkan kebebasan kita.
Seorang sanak sebangsa saya, José
María Arguedas, menyebut Peru sebagai negeri dari “setiap darah.” Saya tidak
yakin ada rumusan lain yang lebih pas untuk itu: itulah kami dan itulah yang
dibawa oleh semua orang Peru dalam dirinya, entah suka atau tidak: agregat dari
tradisi, ras, kepercayaan, dan kebudayaan dari empat penjuru angin. Saya bangga
merasa diri sebagai pewaris budaya pra-Hispanik yang menciptakan kain dan
mantel-mantel bulu Nazca dan Paracas serta keramik-keramik Mochica atau Inca
yang dipamerkan di museum-museum terbaik dunia, para pembangun Machu Picchu,
Gran Chimú, Chan Chan, Kuelap, Sipán, situs pemakaman huaca di La Bruja dan El Sol
serta La Luna, serta kepada orang-orang Spanyol yang dengan pundi-pundi pelana,
pedang, dan kuda-kuda mereka, membawa ke Peru tradisi Yunani, Romawi,
Yudea-Kristen, Renaissance, Cervantes, Quevedo, dan Góngora, serta bahasa
Castilia kasar yang dipermanis oleh Andes. Dan bersama Spanyol datanglah
Afrika, dengan kekuatannya, musiknya, serta imajinasinya yang meletup-letup,
memperkaya heterogenitas Peru. Sedikit penelisikan akan membuat kita mendapati
bahwa Peru, seperti Aleph-nya Borges, adalah bentuk kecil seisi dunia. Sungguh
sebuah privelese luar biasa bagi sebuah negeri untuk tidak memiliki sebuah
identitas karena ia memiliki semuanya!
Penaklukan benua Amerika keji dan
buas, seperti semua penaklukan tentunya, dan kita harus mengkritiknya, namun
jangan lupa bahwa mereka yang melakukan penjarahan dan kejahatan itu sebagian
besarnya adalah kakek-kakek moyang kita, orang-orang Spanyol yang datang ke
benua Amerika dan hidup mempribumikan diri, bukan mereka yang tinggal di negeri
mereka sendiri. Kritik tersebut, agar adil, harus merupakan kritik diri. Sebab
setelah kita meraih kemerdekaan dari Spanyol dua ratus tahun lalu, mereka yang
memangku kekuasaan di bekas-bekas negara koloni, alih-alih membebaskan orang
Indian dan menegakkan keadilan atas kesalahan-kesalahan lama, malah terus
mengeksploitasi mereka dengan kerakusan dan kebuasan yang sama seperti kaum
penakluk, dan di beberapa negara, memangkas dan memusnahkan mereka. Mari akui
dengan sejelas-jelasnya: selama dua abad emansipasi penduduk adat menjadi tanggung
jawab eksklusif kita, dan kita tidak memenuhinya. Ini terus menjadi isu tak
terpecahkan di seluruh Amerika Latin. Tak ada perkecualian satu pun atas aib
dan rasa malu ini.
Saya cinta Spanyol sebagaimana
Peru, dan utang saya padanya sebesar rasa terima kasih saya. Bila bukan karena
Spanyol, saya takkan pernah naik ke podium ini atau menjadi penulis ternama dan
barangkali, seperti begitu banyak rekan-rekan yang kurang beruntung, akan
gentayangan di limbus para penulis tanpa rezeki, penerbit, anugerah, atau
pembaca, yang bakatnya –moga-moga saja—akan ditemukan kelak kemudian hari.
Semua buku saya terbit di Spanyol, di mana saya menerima pengakuan berlebihan,
dan kawan-kawan seperti Carlos Barral, Carmen Balcells, dan banyak lainnya
berjuang keras agar cerita-cerita saya punya pembaca. Dan Spanyol memberi saya
kewarganegaraan kedua ketika saya nyaris kehilangan kewarganegaraan saya. Saya
tak pernah merasakan sedikit pun ketelingkahan antara menjadi orang Peru dan
memiliki paspor Spanyol, sebab saya senantiasa merasa bahwa Spanyol dan Peru
adalah dua sisi mata uang yang sama, bukan hanya dalam diri saya yang kecil ini
namun dalam realitas-realitas hakiki seperti sejarah, bahasa, dan budaya.
Selama bertahun-tahun tinggal di
tanah Spanyol, saya mengenang lima tahun paling brilian yang saya habiskan di
Barcelona tersayang pada awal 1970an. Kedikatoran Franco masih berkuasa dan
main tembak, namun sudah menjadi fosil compang camping, dan terutama di bidang
kebudayaan, tak mampu mempertahankan kontrolnya seperti dulu. Celah dan retakan
telah merekah dan tak bisa ditambal oleh sensor. Melalui itu masyarakat Spanyol
menyerap ide-ide baru, buku-buku, arus-arus pemikiran, dan nilai-nilai serta
bentuk-bentuk artistik yang sebelumnya dilarang karena subversif. Tak ada kota
yang memetik manfaat lebih besar atau lebih baik ketimbang Barcelona dari
diawalinya keterbukaan ini, atau mengalami kegairahan di segala bidang gagasan
dan penciptaan. Ia menjadi ibukota kebudayaan Spanyol, di mana Anda menghirup
hawa antisipasi akan kebebasan yang tengah menjelang. Dan dalam satu hal,
Barcelona juga ibukota kebudayaan Amerika Latin dari banyaknya pelukis,
penulis, penebit, dan seniman dari negara-negara Amerika Latin yang entah
menetap atau bepergian bolak balik ke Barcelona: di situlah tempatnya bila Anda
ingin menjadi penyair, novelis, pelukis, atau komponis pada zaman kami. Bagi
saya, itulah tahun-tahun tak terlupakan penuh kekerabatan, persahabatan,
persekongkolan, dan kerja intelektual yang subur. Sama seperti Paris dulu,
Barcelona adalah Menara Babel, sebuah kota kosmopolitan dan universal yang
merangsang buat kerja dan ditinggali, dan di mana pertama kalinya sejak Perang
Saudara, para penulis Spanyol dan Amerika Latin berbaur dan bergaul, saling
mengakui satu sama lain sebagai pewaris tradisi yang sama dan bersekutu dalam
usaha bersama dan sebuah kepastian: berakhirnya kediktatoran sudah di ambang
pintu dan dalam Spanyol yang demokratis, kebudayaan akan menjadi lakon
utamanya.
Sekalipun tidak berlangsung persis
seperti itu, transisi Spanyol dari kediktatoran menuju demokrasi adalah salah
satu cerita terbaik zaman modern, sebuah contoh bagaimana bila akal sehat dan
rasionalitas menang dan seteru-seteru politik meminggirkan sektarianisme demi
kemaslahatan bersama, peristiwa demi peristiwa bisa berlangsung sama ajaibnya
seperti dalam novel-novel realisme magis. Transisi Spanyol dari otoritarianisme
ke kebebasan, dari keterbelakangan menuju kemakmuran, dari kontras-kontras
ekonomi dan ketimpangan dunia ketiga menjadi sebuah negara kelas menengah,
integrasinya ke Eropa dan penerapan budaya demokratis hanya dalam sekian tahun,
telah mencengangkan seluruh dunia dan melejitkan modernisasi Spanyol.
Mengharukan dan sungguh menggugah buat saya untuk bisa mengalaminya dari dekat,
kadang dari dalam. Semoga nasionalisme, wabah tak tersembuhkan dunia modern dan
Spanyol pula, tidak merusak cerita bahagia ini.
Saya benci setiap bentuk
nasionalisme, sebuah ideologi parokial –atau tepatnya, agama—yang rabun jauh,
eksklusif, memangkas cakrawala intelektual dan menyembunyikan dalam dadanya
prasangka-prasangka etnis dan rasis, karena ia mengubah menjadi suatu nilai
utama, suatu privilese moral dan ontologis, kondisi kebetulan dari tempat
kelahiran. Seiring dengan agama, nasionalisme telah menjadi penyebab
pembantaian terburuk sepanjang sejarah, seperti dalam dua perang dunia dan
pertumpahan darah sekarang di Timur Tengah. Tak ada yang menyumbang lebih besar
pada proses balkanisasi Amerika Latin selain nasionalisme, bersimbah darah
dalam perang dan pertikaian tak masuk akal, menghambur-hamburkan sumber daya
secara besar-besaran untuk membeli senjata alih-alih membangun sekolah,
perpustakaan, dan rumah sakit.
Janganlah kita rancukan
nasionalisme penyumbat telinga ini dan penolakannya atas “yang lain” –yang selalu
menjadi bibit kekerasan—dengan patriotisme, perasaan cinta yang sehat dan murah
hati atas tanah kelahiran, tempat tinggal nenek moyang kita, di mana
mimpi-mimpi perdana kita ditempa, sebuah lanskap akrab dari geografi,
orang-orang tercinta, dan peristiwa-peristiwa yang berubah menjadi
penanda-penanda ingatan dan pertahanan melawan kesunyian. Tanah air bukanlah
bendera, lagu kebangsaan, atau wacana-wacana resmi mengenai tokoh-tokoh
pahlawan, namun segelintir tempat dan orang-orang yang memenuhi ingatan kita
dan mewarnainya dengan kesenduan, sensasi hangat yang tak peduli di manapun
kita berada, akan ada rumah bagi kita untuk pulang.
Peru bagi saya adalah Arequipa,
tempat lahir saya yang tak pernah saya tinggali, kota tempat ibu, kakek-nenek,
bibi-bibi, dan paman-paman mengajari saya untuk tahu melalui kenangan-kenangan
dan kerinduan mereka, karena seluruh puak kerabat saya, seperti yang cenderung
dilakukan orang-orang Arequipa, selalu membawa Kota Putih itu dalam diri mereka
sepanjang hidupnya yang mengembara. Peru adalah Piura di tengah gurun,
pohon-pohon khurnub dan keledai-keledai sengsara yang oleh orang-orang Piura
saat saya muda dinamai “kaki orang lain” –nama yang anggun dan memelas—di mana
saya mendapati bahwa burung bangau tidak membawa bayi ke dunia ini melainkan
sepasang sejolilah yang membuatnya dengan melakukan hal-hal barbar yang adalah
dosa mematikan. Peru adalah Colegio San Miguel dan Teatro Variedades di mana
untuk pertama kalinya saya melihat tulisan pendek saya digarap untuk pentas.
Peru adalah pojokan Diego Ferré dan Colón, di Miraflores kota Lima –kami
menyebutnya Barrio Alegre (Kampung Bahagia)—tempat saya berganti celana pendek
dengan celana panjang, menghisap rokok pertama, belajar menari, jatuh cinta,
dan membuka hati pada gadis-gadis. Peru adalah kantor redaksi koran La Crónica
yang berdebu dan terus berdenyut, di mana pada umur 16 tahun saya bergadang
sepanjang penugasan pertama saya sebagai jurnalis, pekerjaan yang –seiring
dengan sastra—telah menyita hampir seluruh hidup saya, dan ibarat buku-buku,
telah membuat saya lebih hidup, mengenal dunia lebih baik, dan bisa
bersama-sama orang-orang lelaki dan perempuan dari segala tempat dan kelas,
orang-orang hebat, baik, jahat, dan mengerikan. Peru adalah Akademi Militer
Leoncio Prado, di mana saya belajar bahwa Peru bukanlah kantung kecil kelas
menengah yang saya tinggali sampai saat itu, tertutup dan terlindung, melainkan
negeri luas, purba, bengis, timpang, yang guncang oleh segala jenis prahara
sosial. Peru adalah sel-sel klandestin Cahuide di mana bersama segelintir
mahasiswa San Marcos, kami siapkan revolusi dunia. Dan Peru adalah kawan-kawan
saya dalam Gerakan Kebebasan yang bersama mereka selama tiga tahun, di
tengah-tengah bom, pemadaman, dan pembunuhan teroris, kami bekerja membela
demokrasi dan kultur kebebasan.
Peru adalah Patricia, sepupu saya
dengan hidung pesek dan watak liar, yang saya merasa beruntung bisa menikahinya
45 tahun lalu dan yang masih betah menanggung mania, neurosa, dan ledakan
kemarahan yang membantu saya menulis. Tanpanya hidup saya sudah lama larut
dalam puting beliung kekacauan, dan tak bakal lahir Álvaro, Gonzalo, Morgana
serta enam cucu yang memperpanjang eksistensi kami. Ia menggarap segalanya dan
menggarap segalanya dengan beres. Ia pecahkan masalah, mengatur keuangan,
menata keberantakan, menjauhkan wartawan dan tamu-tamu tak diundang,
mempertahankan waktu saya, memutuskan pertemuan dan perjalanan, mengemas dan
membongkar kopor-kopor, dan begitu murah hati sampai-sampai ketika ia mengira
sedang mencerca saya, ia malah memberi sanjungan tertinggi: “Mario, bisamu cuma
menulis.”
Kembali ke soal sastra. Surga masa
kanak-kanak bukanlah mitos literer buat saya melainkan kenyataan yang saya
hidupi dan nikmati dalam rumah keluarga saya, rumah besar berteras tiga di
Cochabamba. Di sana bersama sepupu-sepupu dan teman-teman sekolah kami meniru
cerita-cerita Tarzan dan Salgari, dan di Prefektur Piura, tempat kelelawar
bersarang di loteng-loteng, bayang-bayang sunyi yang memenuhi malam-malam
berbintang di wilayah panas itu dengan misteri. Selama tahun-tahun itu, menulis
adalah memainkan permainan yang disukai sanak keluarga, sesuatu yang asyik yang
mendatangkan tepuk tangan buat saya, cucu, kemenakan, anak tanpa seorang papa
sebab ayah saya telah meninggal dan naik ke surga. Ia lelaki jangkung dan
tampan berseragam angkatan laut yang fotonya menghiasi meja samping ranjang
saya, yang saya doakan dan saya kecup sebelum tidur. Suatu pagi di Piura itu
–saya kira saya belum pulih darinya—ibu memberitahu bahwa pria tersebut
sesungguhnya masih hidup. Dan pada hari itu juga kami akan tinggal bersamanya
di Lima. Saya berumur sebelas tahun, dan sejak itu segalanya berubah. Rontoklah
kepolosan saya dan saya pun mendapati rasa sepi, otoritas, kehidupan dewasa,
dan rasa takut. Hiburan saya adalah membaca, membaca buku-buku bagus,
berlindung dalam dunia di mana hidup itu penuh gelora, intens, satu petualangan
disusul lainnya, di mana saya bisa kembali merasa bebas dan bahagia. Dan itu
ditulis, diam-diam, bak seseorang yang menyerahkan diri pada kejahatan tak
terkatakan, luapan hasrat yang terlarang. Sastra tak lagi menjadi permainan. Ia
menjadi cara untuk melawan kesukaran, memprotes, memberontak, kabur dari yang
tak tertanggungkan, alasan saya untuk hidup. Sejak itu hingga kini, di tiap
situasi yang membuat saya merasa patah arang atau babak belur, di tubir
keputusasaan, mencurahkan jiwa dan raga saya pada kerja sebagai pendongeng
telah menjadi cahaya di ujung terowongan, papan kayu yang membawa seorang karam
ke tepian.
Sekalipun sulit sekali dan membuat
saya berkeringat darah dan, laiknya setiap penulis, terkadang merasakan ancaman
kelumpuhan, musim paceklik imajinasi, tak ada yang membuat saya menikmati hidup
ini sebagaimana menghabiskan berbulan-bulan dan bertahun-tahun merangkai sebuah
kisah, dari awalnya yang serba tak pasti, gambaran yang disimpan oleh ingatan
dari suatu pengalaman yang dihayati yang berubah menjadi kegelisahan,
antusiasme, lamunan yang lantas berkecambah menjadi suatu proyek dan keputusan
untuk berupaya mengubah kabut bayang-bayang meresahkan itu menjadi sebuah
cerita. “Menulis adalah sebuah cara hidup,” kata Flaubert. Ya, jelas, cara
hidup dengan ilusi dan suka cita dan api yang menyambar-nyambar dalam kepala,
bergulat dengan kata-kata yang membandel sampai Anda tundukkan mereka,
menjelajahi dunia luas ini ibarat pemburu melacak mangsa yang diinginkannya
untuk memberi makan bibit fiksi dan meredakan nafsu rakus cerita-cerita yang
tumbuh seperti hendak memangsa cerita-cerita lainnya. Mulai merasakan vertigo
yang dihadirkan oleh si calon novel, tatkala ia mulai berwujud dan terlihat
memiliki hidupnya sendiri, dengan karakter-karakter yang bergerak, bertindak,
berpikir, merasa, dan menuntut penghargaan dan pertimbangan, yang tak mungkin
lagi kita paksakan perilaku dengan sewenang-wenang atau mencabut kehendak bebas
mereka tanpa membunuhnya, tanpa membuat cerita kehilangan daya rayunya, inilah
pengalaman yang terus menerus memukau saya seperti saat pertama kalinya, begitu
utuh dan memusingkan seperti bercinta dengan perempuan yang disayangi selama
berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tanpa henti.
Saat membahas fiksi, saya banyak
membicarakan novel dan sangat sedikit tentang teater, bentuk agungnya yang
lain. Sangat tak adil memang. Teater adalah cinta pertama saya, sejak masih
remaja saat saya menonton di Teatro Segura, Lima, Death of a Salesman karya
Arthur Miller, pertunjukan yang membuat saya melambung penuh emosi dan
mendorong penulisan drama saya tentang Inca. Andaikata ada gerakan teater di
Lima pada 1950an, saya akan jadi dramawan alih-alih novelis. Namun tidak ada,
dan pasti itulah yang mengarahkan saya makin lama makin menjurus ke narasi.
Namun cinta saya akan teater tak pernah usai, tidur meringkuk dalam
bayang-bayang novel, ibarat sebuah godaan dan nostalgia, terutama ketika saya
menonton pertunjukan menawan. Pada akhir 1970an, kenangan terus menerus akan
seorang nenek buyut yang berusia seabad, Mamaé, yang pada tahun-tahun
penghabisan hidupnya memutus realitas sekitar dan berlindung dalam kenangan dan
fiksi, menyiratkan sebuah cerita. Dan saya merasa, secara firasat, bahwa ini
adalah cerita buat teater, bahwa hanya di panggung ia bisa punya getar dan
kemegahan karya-karya fiksi yang berhasil. Saya menuliskannya dengan luapan
semangat seorang pemula dan begitu menikmati melihatnya dipentaskan dengan
Norma Aleandro memegang peran utama perempuan, dan sejak itu, antara novel
dengan novel, esai dengan esai, saya kambuh beberapa kali menulis teater. Dan
tentu saja saya tak pernah membayangkan bahwa pada usia tujuh puluhan saya akan
naik (atau tepatnya, diseret) ke atas panggung untuk berakting. Pengalaman
nekat tersebut membuat saya –seseorang yang menghabiskan hidupnya menulis karya
fiksi—mengalami untuk pertama kalinya dengan tubuh dan darah sendiri keajaiban
melakoni selama beberapa jam sebuah tokoh khayalan, menghidupkan fiksi itu di
hadapan penonton. Saya takkan pernah cukup berterima kasih pada sahabat-sahabat
terkasih saya, sutradara Joan Ollé dan aktris Aitana Sánchez Gijón, yang
mendorong saya ikut menjalani pengalaman fantastis tersebut (sekalipun panik
menyertainya).
Sastra adalah representasi palsu
kehidupan yang toh demikian membantu kita untuk bisa lebih memahami kehidupan,
memberi kita orientasi dalam labirin tempat kita dilahirkan, berkembang, dan
mati. Ia memberi kompensasi bagi pil pahit dan rasa frustrasi yang ditimpakan
pada kita oleh kehidupan nyata, dan berkatnya kita bisa memahami, setidaknya
sebagian, tulisan tak terbaca yang adalah hidup itu sendiri bagi mayoritas umat
manusia, terutama bagi kita yang membuahkan lebih banyak keraguan daripada
kepastian dan mengakui kebingungan kita dalam menghadapi persoalan-persoalan
seperti transendensi, nasib diri individual dan kolektif, jiwa, makna atau
ketidakbermaknaan sejarah, apa yang masuk dan apa yang di luar pengetahuan
rasional.
Saya selalu terkesima membayangkan
situasi tak menentu di mana nenek moyang kita, yang masih tak jauh berbeda
dengan binatang, memakai bahasa yang memungkinkan mereka berkomunikasi, dalam
gua-gua, di seputar api unggun, pada malam-malam yang menggelegak penuh ancaman
–kilat, guntur, dan geram binatang buas—mulai mengarang dan menuturkan cerita-cerita.
Itulah momen krusial dalam takdir kita, sebab di lingkaran manusia-manusia
primitif yang diikat oleh suara dan khayalan sang pendongeng, peradaban
bermula, perjalanan panjang yang berangsur-angsur akan memanusiakan kita dan
membimbing kita menemukan individu berdaulat, yang terlepas dari puak, yang
mengolah ilmu pengetahuan, seni, hukum, kebebasan, dan menelisik jeroan paling
dalam dari alam, tubuh manusia, ruang angkasa, dan berkelana ke
bintang-bintang. Dongeng-dongeng, fabel-fabel, mitos-mitos, legenda-legenda
yang bergaung untuk pertama kalinya bak musik anyar di hadapan pendengar yang terancam oleh misteri
dan bahaya dunia di mana segala sesuatunya tak dikenal dan rawan, pasti
merupakan guyuran yang menyegarkan, pemandian teduh bagi jiwa-jiwa yang
senantiasa waspada, yang hidupnya cuma berarti makan, berlindung dari cuaca,
membunuh, dan berkembang biak. Sejak saat mereka mulai bermimpi secara
kolektif, berbagi impian, terdorong oleh para pendongeng, mereka tak lagi
begitu terikat pada putaran roda pertahanan hidup, pusaran tugas yang mematikan
itu, dan hidup mereka pun menjadi mimpi, kenikmatan, fantasi, serta sebuah
rencana revolusioner: lepas dari kekangan ini, berubah dan jadi lebih baik,
sebuah pergulatan untuk meredakan hasrat dan ambisi yang menghasutkan
kehidupan-kehidupan yang bisa mereka bayangkan, serta rasa penasaran untuk
menjernihkan apa-apa yang tak diketahui dari sekeliling mereka yang separuh
tertutup.
![]() |
Di perpustakaan umum Lima, Peru, murid-murid sekolah mempelajari kilas balik
kepengarangan Mario Vargas Llosa (AP Photo - Martin Mejia)
|
Dari gua-gua hingga pencakar
langit, dari pentungan hingga senjata pemusnah massal, dari kehidupan
tautologis suku-suku hingga era globalisasi, fiksi-fiksi sastrawi telah
melipatgandakan pengalaman manusia, mencegah kita tunduk pada kelayuan,
penarikan diri, kepasrahan. Tak ada yang menabur lebih banyak keresahan, begitu
mengusik imajinasi dan hasrat-hasrat kita seperti kehidupan bohong-bohongan
yang kita imbuhkan, berkat sastra, pada kehidupan yang kita punya, agar kita
bisa menjadi tokoh-tokoh protagonis dalam petualangan-petualangan besar,
gairah-gairah luhur yang takkan diberikan kehidupan nyata pada kita. Kebohongan
sastra menjadi kebenaran melalui kita, para pembaca yang terubah, terasuki
kerinduan, dan melalui fiksi, terus menerus menggugat realitas yang medioker
ini. Sihir, ilusi untuk memiliki apa yang tak kita miliki, menjadi apa yang
bukan kita, menjalani kehidupan mustahil seperti dewa-dewa di mana kita merasa
fana dan baka pada saat yang sama, sastra memperkenalkan pada jiwa kita sikap
non-kompromi dan pemberontakan, yang berada di balik semua tindakan
kepahlawanan yang turut berperan mengurangi kekerasan dalam hubungan antarmanusia.
Mengurangi kekerasan, bukan mengakhiri. Karena kisah kita, untungnya, akan
terus menjadi kisah yang belum rampung. Itu sebabnya kita harus terus bermimpi,
membaca, dan menulis, cara paling efektif yang kita temukan untuk meredakan
kefanaan kita, mengalahkan kegalauan waktu, dan mengubah yang mustahil menjadi
mungkin.
Stockholm, 7 Desember 2010














~ 0 comments: ~
~ Post a Comment ~